Belum Usai! Ribuan Dosen Kembali Serbu Workshop OBE Mahakarya Citra Utama demi Taklukkan Permendiktisaintek No. 39

1 bulan yang lalu
Ditinjau oleh : Raka

10 Feb 2026

"Outcome Based Education Episode 2"

Jakarta, 29-31 Januari 2026 - Ribuan dosen kesehatan dari berbagai penjuru tanah air kembali memadati ruang virtual dalam agenda Workshop Exclusive Implementasi Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) Episode ke-2 yang diselenggarakan secara maraton oleh Mahakarya Citra Utama (MCU) pada tanggal 29 hingga 31 Januari 2026 sebagai langkah strategis untuk menaklukkan tantangan regulasi terbaru dalam Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025. Antusiasme yang masif ini dipicu oleh urgensi adaptasi kurikulum yang kini menjadi syarat mutlak dalam penilaian akreditasi institusi, di mana para tenaga pendidik dituntut untuk merombak total paradigma pengajaran dari berbasis konten menjadi berbasis hasil kompetensi nyata. Kegiatan yang berlangsung secara interaktif melalui platform Zoom dan siaran langsung YouTube ini menghadirkan tiga pakar kurikulum dan keperawatan nasional, yakni Dr. Yektiningtyastuti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat, Prof. Mekar Dwi Anggraeni, S.Kep., Ns., M.Kep., Ph.D, serta Prof. Dr. Ah. Yusuf, S.Kp., M.Kes., yang secara bergantian mengupas tuntas teknik penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) agar selaras dengan standar nasional yang baru saja ditetapkan oleh pemerintah.

Dalam pemaparannya selama tiga hari berturut-turut, para narasumber menegaskan bahwa implementasi OBE bukan sekadar perubahan dokumen administratif, melainkan sebuah transformasi mendalam dalam cara dosen merancang pengalaman belajar bagi mahasiswa. Dr. Yektiningtyastuti mengawali sesi dengan menekankan metode backward design, di mana profil lulusan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum menurunkan capaian pembelajaran ke tingkat mata kuliah agar materi yang disampaikan sinkron dengan kebutuhan dunia kerja. Sementara itu, Prof. Mekar Dwi Anggraeni memperdalam pembahasan mengenai integrasi metode pembelajaran dinamis seperti Case-Based Learning dan Project-Based Learning yang kini diwajibkan oleh regulasi terbaru. Sebagai penutup rangkaian materi teknis, Prof. Dr. Ah. Yusuf membedah strategi penilaian yang komprehensif, memastikan bahwa setiap unjuk kerja mahasiswa dapat terukur secara valid melalui instrumen penilaian yang objektif.

Lebih lanjut, workshop ini membedah secara mendalam mengenai perubahan beban perhitungan Satuan Kredit Semester (SKS) yang kini dipatok setara dengan empat puluh lima jam per semester. Para narasumber mengingatkan peserta bahwa setiap menit yang dihabiskan mahasiswa, baik dalam bentuk tatap muka di kelas, tugas terstruktur, maupun belajar mandiri, harus terhitung secara presisi dan dituangkan dalam dokumen perencanaan. Hal ini menuntut kreativitas dosen dalam merancang penugasan yang efektif sehingga porsi penilaian tidak lagi hanya mengandalkan ujian tulis tradisional seperti UTS dan UAS, melainkan lebih banyak diambil dari penyelesaian proyek nyata dan analisis kasus di lapangan. Dengan adanya pembagian bobot penilaian yang tepat, diharapkan mahasiswa kesehatan dapat memiliki ketajaman berpikir kritis dan keterampilan klinis yang mumpuni.

Sesi diskusi yang berlangsung intensif hingga hari terakhir juga mengungkap tantangan teknis yang dihadapi dosen, mulai dari cara menilai sikap hingga integrasi nilai-nilai karakter institusi ke dalam kurikulum kesehatan yang padat. Para profesor menekankan pentingnya penggunaan rubrik penilaian yang transparan dan edukatif agar capaian pembelajaran setiap mahasiswa dapat dipantau secara berkala, terutama pada mata kuliah praktikum di laboratorium yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi. Dengan adanya pemahaman yang seragam dari ketiga narasumber ini, diharapkan tidak ada lagi ketimpangan kualitas lulusan antar perguruan tinggi kesehatan di Indonesia, sehingga seluruh institusi memiliki daya saing yang kuat di tingkat nasional maupun internasional.

Rendy Himansyah selaku perwakilan dari Mahakarya Citra Utama menutup rangkaian kegiatan pada 31 Januari dengan menyatakan bahwa kehadiran ketiga pakar besar ini merupakan bentuk komitmen berkelanjutan dari MCU untuk mendampingi para dosen dalam melewati masa transisi kurikulum yang menantang. Beliau menekankan bahwa kolaborasi antar akademisi sangat diperlukan agar setiap institusi mampu memenuhi ekspektasi asesor akreditasi yang kini sangat ketat dalam memantau implementasi OBE secara nyata di lapangan. Dengan berakhirnya episode kedua ini, para peserta diharapkan dapat segera melakukan revisi pada kurikulum di program studi masing-masing guna melahirkan lulusan tenaga kesehatan yang lebih kompeten, adaptif, dan siap kerja sesuai standar nasional yang telah ditetapkan.