Urgency Penguatan Self-Leadership sebagai Upaya Preventif Burnout Syndrome pada Mahasiswa Kesehatan

2 minggu yang lalu
Ditinjau oleh : Gufron Muhaimin

06 May 2026

"Dr. Maria Susila Sumartiningsih, M.Pd., M.Sc., PhD., FIHFAA"

Jakarta, 29 April 2026 — Mahakarya Citra Utama melalui Virtual Zoom kembali menyelenggarakan Webinar Kuliah Pakar dengan tema “Urgency Penguatan Self-Leadership sebagai Upaya Preventif Burnout Syndrome pada Mahasiswa Kesehatan.”

Kegiatan ini menghadirkan Dr. Maria Susila Sumartiningsih, M.Pd., M.Sc., PhD., FIHFAA, yang membahas fenomena burnout pada mahasiswa kesehatan serta pentingnya penguatan self-leadership sebagai strategi preventif dalam menghadapi tekanan akademik dan kehidupan mahasiswa kesehatan modern .


Burnout pada Mahasiswa Kesehatan Semakin Mengkhawatirkan

Dalam pemaparannya, Dr. Maria menjelaskan bahwa burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat stres berkepanjangan.

Fenomena ini semakin sering dialami mahasiswa kesehatan, ditandai dengan keluhan seperti merasa sangat lelah meski belum praktik klinik, tugas akademik yang menumpuk, sulit fokus, kehilangan semangat belajar, hingga muncul perasaan tidak cukup baik.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa sekitar 48–60% mahasiswa kesehatan mengalami burnout, termasuk 58–62% mahasiswa keperawatan, sementara satu dari dua mahasiswa kedokteran juga terdampak kondisi serupa. Burnout bahkan dapat menurunkan performa akademik hingga 30% .


Memahami Dimensi Burnout

Dr. Maria menjelaskan bahwa burnout memiliki tiga dimensi utama, yaitu:

  1. Emotional Exhaustion, berupa kelelahan emosional dan kehilangan energi.
  2. Depersonalization, munculnya sikap dingin, sinis, atau menarik diri dari lingkungan.
  3. Low Personal Achievement, yaitu perasaan tidak mampu dan rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri.

Ketiga dimensi ini dapat memengaruhi kesehatan mental, kualitas belajar, hingga hubungan sosial mahasiswa jika tidak ditangani dengan baik .


Tahapan Burnout menurut General Adaptation Syndrome

Mengacu pada teori General Adaptation Syndrome (GAS) dari Hans Selye, burnout berkembang melalui tiga tahapan utama:

  • Alarm Reaction, yaitu respon awal terhadap stres yang ditandai dengan kecemasan, jantung berdebar, dan peningkatan fokus sementara.
  • Resistance, saat tubuh mulai beradaptasi dengan tekanan namun energi perlahan terkuras akibat terus memaksa diri tetap produktif.
  • Exhaustion, tahap kelelahan berat secara fisik dan mental, penurunan motivasi, sulit berkonsentrasi, hingga meningkatnya risiko depresi.

Dr. Maria menekankan bahwa banyak mahasiswa kesehatan terjebak pada fase resistance berkepanjangan tanpa menyadari bahwa mereka sedang menuju burnout .


Faktor Penyebab dan Dampak Burnout

Beberapa faktor utama penyebab burnout pada mahasiswa kesehatan meliputi:

  • Beban akademik yang tinggi
  • Tekanan hidup dan tuntutan sosial
  • Kurang tidur
  • Lemahnya kontrol diri dan manajemen diri
  • Ketidakseimbangan kehidupan (life imbalance)

Kondisi tersebut dapat berdampak pada penurunan prestasi akademik, kecemasan berlebihan, overthinking, penurunan kualitas hidup, memburuknya hubungan sosial, hingga meningkatnya risiko depresi .


Self-Leadership sebagai Solusi Preventif

Sebagai solusi, Dr. Maria memperkenalkan konsep self-leadership, yaitu kemampuan seseorang untuk mengatur diri sendiri dalam aspek pikiran, emosi, dan perilaku.

Penguatan self-leadership dinilai penting karena mampu:

  • Menurunkan burnout hingga 30%
  • Meningkatkan kepercayaan diri
  • Membantu fokus dan manajemen waktu
  • Mengurangi distraksi dan tekanan psikologis

Dalam pemaparannya juga dijelaskan adanya korelasi negatif antara self-leadership dan burnout (r = -0,5), yang berarti semakin tinggi kemampuan self-leadership seseorang, maka tingkat burnout cenderung menurun .


Strategi Penguatan Self-Leadership

Beberapa strategi praktis yang dapat diterapkan mahasiswa kesehatan untuk memperkuat self-leadership antara lain:

  • Menentukan target harian kecil yang realistis dan spesifik
  • Mengingat kembali tujuan memilih profesi kesehatan
  • Mengembangkan pola pikir positif dan fokus pada progres, bukan perfeksionisme
  • Menjaga keseimbangan hidup dengan tidur cukup dan menyediakan waktu untuk diri sendiri
  • Mengelola emosi melalui relaksasi dan mindfulness
  • Mengenali waktu paling produktif untuk belajar
  • Melakukan refleksi diri tanpa menghakimi diri sendiri

Dr. Maria menegaskan bahwa burnout bukan tanda kelemahan individu, melainkan hasil dari sistem dan cara pengelolaan diri yang belum optimal .


Teknik Pomodoro untuk Mencegah Kelelahan Mental

Dalam kuliah pakar ini, Dr. Maria juga memperkenalkan Teknik Pomodoro yang dikembangkan oleh Francesco Cirillo sebagai metode manajemen waktu untuk meningkatkan fokus belajar dan mencegah burnout.

Metode ini dilakukan dengan membagi waktu belajar menjadi sesi fokus selama 25 menit yang diikuti istirahat 5 menit. Setelah empat sesi, mahasiswa dianjurkan mengambil waktu istirahat lebih panjang.

Teknik ini membantu mahasiswa melatih disiplin waktu, kontrol diri, serta manajemen energi agar tidak mengalami kelelahan mental akibat belajar berlebihan .


Kesimpulan

Kuliah pakar ini menegaskan bahwa penguatan self-leadership merupakan strategi preventif yang mendesak dalam menghadapi meningkatnya burnout syndrome pada mahasiswa kesehatan.

Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk bertahan menghadapi tekanan akademik, tetapi juga belajar mengenali diri, mengelola stres, dan membangun keseimbangan hidup agar mampu berkembang secara sehat dan produktif.

Dr. Maria juga mengingatkan bahwa belajar bukan tentang lamanya waktu, melainkan kualitas fokus dan kemampuan menjaga kesehatan mental selama proses pendidikan.

Sebagai penutup, beliau menyampaikan pantun motivatif:

“Pergi ke ladang memetik jambu,
Pulangnya singgah membeli ketan.
Bersama Maha Karya Citra Utama kita berpadu,
Belajar manajemen diri menuju perubahan.”

“Naik perahu menyusuri telaga,
Airnya tenang di bawah senja.
Mahasiswa bukan sekadar pengikut biasa,
Tapi calon pemimpin masa depan bangsa.”


Referensi :

  • Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2017). Job demands–resources theory: Taking stock and looking forward. Journal of Occupational Health Psychology, 22(3), 273–285.
  • Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.
  • Dyrbye, L. N., et al. (2023). Burnout among medical students: A longitudinal study. Academic Medicine, 98(4), 567–575.
  • Frajerman, A., et al. (2024). Prevalence of burnout in medical students: Systematic review and meta-analysis. JAMA Network Open, 7(2), e240123.
  • Hidayat, T., et al. (2023). Academic stress and burnout among Indonesian health students. Jurnal Psikologi Kesehatan, 15(2), 101–115.
  • Kim, S., & Park, J. (2024). Self-leadership and burnout among nursing students. Nurse Education Today, 130, 105890.
  • Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding burnout: New models. World Psychiatry, 15(2), 103–111.
  • Neck, C. P., & Houghton, J. D. (2006). Two decades of self-leadership theory and research. Journal of Managerial Psychology, 21(4), 270–295.
  • Putri, A., & Rahman, F. (2023). Burnout pada mahasiswa keperawatan di Indonesia. Jurnal Keperawatan Indonesia, 26(1), 45–53.
  • Sari, D. P., et al. (2024). Burnout prevalence among Indonesian medical students. Indonesian Journal of Medical Education, 13(1), 12–20.
  • Schaufeli, W. B. (2023). Burnout in higher education: Trends and challenges. Educational Psychology Review, 35, 45–67.
  • Wibowo, A., et al. (2025). Effectiveness of self-leadership training in reducing burnout. Jurnal Psikologi Terapan, 18(1), 77–89.